Market

Penerapan B40, Gapki: Ekspor Minyak Sawit Diramal Turun

Pemerintah terus mendorong pengembangan bahan bakar ramah lingkungan berbasiskan minyak sawit. Sukses B35 bakal naik kelas menjadi B40. Hal ini berdampak kepada percepatan hilirisasi sawit dan turunnya ekspor.

Mungkin anda suka

Ketua Kompartemen Media Relation Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Fenny Sofyan, penerapan B40 mendorong naiknya permintaan. Alhasil, ekspor minyak sawit diprediksi turun di tahun ini. Karena itu tadi, diborong untuk pembuatan B40.

“Tahun ini, ekspor diprediksi turun 13.95 persen seiring masifnya pengembangan biodiesel dari B35 menjadi B40,” kata dia, dikutip Selasa (6/2/2024).  

Tahun ini, kata dia, permintaan biodiesel diperkirakan mencapai 9,08 persen. Atau setara 27,4 juta ton untuk konsumsi dalam negeri.

Fenny memaparkan, laju ekspor minyak sawit mengalami penurunan sejak 2019. Kala itu, volume ekspor mencapai 37,4 juta ton. Kemudian longsor menjadi 34 juta ton pada 2020.

Setahun kemudian turun tipis menjadi 33,6 juta ton, namun sempat naik tipis di 2022 menjadi 33,9 juta ton. “Gapki memprediksi ekspor sepanjang 2023 hanya mencapai 32,9 juta ton,” kata perempuan berparas ayu ini. 

Jika dilihat dari produksi minyak sawit selama 4 tahun terakhir, kata Fenny, Indonesia mengalami stagnasi produksi dari tahun 2019 sampai 2022. Sedangkan, secara konsumsi itu terus naik, apalagi dengan adanya mandatori biodiesel, sehingga naik secara konsumsi.

“Ekspor terus turun, di 2023 ini unik, ada sebagian yang menyebutkan ekspor turun itu bukan karena produksi yang stagnan,” tutur dia.

Adapun penyebab turunnya ekspor minyak sawit di 2023, kata Fenny, merupakan imbas dari langkah Rusia yang meneken Black Sea Grain Initiative pada 2022.

Perjanjian tersebut membuka jalur perdagangan, sehingga biji-bijian dan sunflower oil dapat diekspor dengan harga murah. Akibatnya, China dan India kebanjiran stok pada 2023.

“Makanya kemudian itu di Oil World, Pakistan juga konsisten (menilai) penurunan ekspor (minyak sawit) dari Indonesia lebih karena mereka (China dan India) punya stok yang cukup tinggi, tetapi kalau lihat di sini ya memang produksinya juga stagnan,” tukasnya.

Lebih lanjut, Fenny juga mengungkapkan bahwa produksi Crude Palm Oil (CPO) atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) Indonesia, tidak bergerak selama 4 tahun. Sementara penerapan biodiesel terus memicu peningkatan konsumsi domestik untuk pangan, biodiesel, dan oleochemical.

“Dengan adanya El Nino pada 2023, sedikit banyak memengaruhi penurunan produksi pada 2024. Meski tidak significan,” pungkas Vice President Of Communications PT Astra Agro Lestari Tbk itu. 

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button