Market

Pemerintah Naikkan Harga Eceran Beras Medium dan Premium

Pemerintah menaikkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras jenis medium dan premium mulai 1 Juni 2024, baik di pasar tradisional maupun retail modern.

Disebut sebagai bagian dari kebijakan relaksasi yang sedang berlangsung, kenaikan ini diteken dalam Surat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) kepada stakeholder perberasan Nomor 160/TS.02.02/K/5/2024 tertanggal 31 Mei 2024.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan kenaikan HET ini berlaku untuk beras medium dan premium. Ia menyebut langkah tersebut ditempuh pemerintah untuk menghadapi fluktuasi harga komoditas global dan perubahan iklim yang mempengaruhi produksi pangan nasional.

Menurut Arief, keputusan ini diambil sesuai dengan pernyataan Presiden Joko Widodo. Sang Kepala Negara mengatakan HET beras bakal disesuaikan dengan situasi dan kondisi aktual saat ini.

Jokowi menyebut ada beberapa faktor terkait, di mana salah satunya urusan agroinput hingga biaya-biaya lain yang membentuk dan mempengaruhi harga beras.

Berdasarkan aturan baru ini, HET beras premium mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp13.900-Rp14.800 per kg menjadi Rp14.900-Rp15.800 per kg. Sementara itu, HET beras medium naik dari Rp10.900-Rp11.800 per kg menjadi Rp12.500-Rp13.500 per kg.

Penentuan HET ini, lanjut Arief, bertujuan untuk menyesuaikan dengan kondisi input biaya produksi yang berubah, sehingga dapat meredam lonjakan harga beras premium hingga medium agar tidak memberatkan konsumen.

Namun, kebijakan ini lebih mendorong penjual untuk menggelontorkan beras ke pasar, bukan mengatasi input produksi. Artinya, stimulus HET tersebut menyasar persoalan pasokan.

Kritik Pakar Ekonomi

Sementara itu, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Arin Setyowati mengkritik kebijakan ini.

“Jika yang disasar pemerintah adalah kenaikan input, seharusnya mengutamakan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah ke petani. Kebijakan ini tidak memberikan dampak positif untuk sektor hulu yakni petani, yang merupakan subjek penting dalam memastikan stok produksi beras aman,” ujarnya, Senin (3/6/2024).

Arin menjelaskan bahwa persoalan beras sangat penting, mengingat konsumsi beras di Indonesia mencapai 35,3 juta metrik ton menurut data Katadata 2023 untuk tahun 2022/2023. Sementara data dari CNBC 2023 menunjukkan bahwa 98,35 persen masyarakat Indonesia mengandalkan beras sebagai bagian penting dalam pola makan mereka.

“Dengan fluktuasi harga beras yang cenderung melonjak, tentu akan memberikan dampak besar bagi ekonomi rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin,” kata Arin.

Menurut dia, selain penetapan HET, perlu ada langkah-langkah pemulihan yang masif untuk mengatasi persoalan pokok warga terkait perberasan. Beberapa langkah yang diusulkan termasuk impor terencana dan operasi pasar yang terkendali dalam jangka pendek.

“Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sistem informasi pasar dalam mengurangi volatilitas harga, sehingga dapat membantu pemerintah mengelola dan merespons risiko terkait harga, cuaca, atau bahaya lainnya,” tambahnya.

Untuk jangka panjang, Arin menekankan perlunya pemberdayaan petani melalui akses terhadap teknologi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Ini meliputi mempersingkat waktu panen, meminimalisir tenaga kerja yang diperlukan, serta meningkatkan akurasi dibandingkan dengan metode panen tradisional.

Selain itu, peningkatan jalur logistik dengan memotong rantai perantara dalam distribusi beras juga sangat penting untuk efisiensi dan pemerataan distribusi beras di Indonesia.

“Pembangunan infrastruktur juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan,” pungkas Arin.
 

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button